Ingat kisah Ibrahim? Kalau lupa kita akan ingatkan lagi yah. Coba deh perhatiin disini, mungkinkah seorang suami tega meninggalkan istrinya di wilayah yang sepi tak berpenghuni tanpa perbekalan yang cukup dan memadai? Atau seorang ayah yang tega menyembelih anaknya setelah diharap-harap kelahirannya? Kita yakin semua suami atau ayah tidak ada yang tega. Tapi bagaimana dengan Nabi Ibrahim? Beliau bukan tega bukan juga tidak cinta, tapi ini pengorbanan demi taat kepada Allah swt.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Maka, ketika Isma‘il sudah berusia balig, Ibrahim berkata, “Hai, Anakku! Sungguh aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu!” Isma‘il menjawab, “Ayahku! Lakukan apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insyaAllah aku termasuk orang yang sabar dalam melaksanakan perintah Allah.” (As Saffat [37] : 102)
Inilah pengorbanan yang sesungguhnya, pengorbanan yang didasari iman dan kesabaran kepada Allah swt. Dengan keimanan dan kesabaran pada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berbuah manis. Ternyata apa yang diperintahkan kepada Nabi Ibrahim menjadi syariat udhiyyah yakni syariat menyembelih dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, masyarakat muslim biasa menyebutnya dengan qurban. Padahal istilah ini jauh lebih umum dari kalimat udhiyyah.
Tapi yang pasti dari sejarah ini kita belajar bahwa tentang taat kepada Allah swt adalah juga tentang melepas dengan ikhlas.
Tunaikan Ibadah Qurban untuk kebahagiaan bersama, tunaikan melalui rekening
DSKL BSI 880 99988 44
Informasi dan Konfirmasi
081 1221 6667
0852 2118 4803
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : sedekahku_percikaniman
Tiktok : sedekahkupercikaniman
Youtube : SedekahkuPercikanIman