Manusia merupakan satu diantara ribuan makhluk Allah yang diciptakan terikat oleh waktu, baik masa lalu, masa sekarang atau waktu masa depan. Dan sesuatu yang terikat oleh waktu pasti ada batasan dan jarak, maksudnya ada awal dan akhir. Kalau begitu berarti manusia itu lahir ke dunia sebagai awal fase hidupnya dan mati sebagai fase akhirnya, bener kan? Coba ada tidak yang bisa menghindar dari akhir kehidupan? Jelas tidak akan ada yang bisa, bahkan rasanya mustahil banget manusia tidak akan mati. Ilustrasinya sederhana, berapa orang yang sudah baca artikel ini? Mungkin puluhan sampai ribuan, pertanyaannya apakah mungkin sampai menembus angka puluhan dan ribuan pembaca kalau mereka tidak selesai membacanya? Justru karena mencapai puluhan dan ribuan lah manusia selesai membaca dan silih berganti. Berarti kalau silih berganti artinya ada akhirnya kan? Seperti anda duduk di kursi tersebut pasti ada yang duduk sebelumnya, makanya kenapa anda bisa duduk disitu.

Singkatnya berarti hidup manusia itu tidak pernah tidak selesai, pasti ada waktunya selesai dan itu menjadi penghujung akhir hidupnya. Oleh sebab itu akhir kehidupan manusia pada hakikatnya adalah sama tidak ada yang beda dengan manusia lain. Bukanya Allah menyebutkan kullu nafsin? Lalu apakah ada yang selain nafsin atau yang bernyawa? Tidak ada sama sekali.
Jika akhir kehidupan manusia itu benar-benar sama, lantas apa yang harus kita lakukan? Mungkin rasanya akan sia-sia saja hidup ini jika ujung takdir manusia sudah diketahui, yaitu mati. Begitu ucapan orang yang selalu diselimuti kabut pesimis. Bukan begitu seharusnya. Justru hidup itu bukan bagaimana kita pasrah pada kehidupan hanya karena kita bakalan mati. Akan tetapi kita harus berusaha hidup sebaik mungkin agar ketika kita mati nanti tidak menyesali apapun yang belum kita lakukan. Karena ingatlah hal yang sangat kita takuti nanti adalah penyesalan.

Oleh sebab itu Allah SWT mengajarkan kita agar optimal dan maksimal dalam menjalani hidup sebaik mungkin. Meski ujung takdir hidupnya sama, tapi bekal mati nanti akan berbeda tergantung kualitas hidup yang tengah dijalani hari ini. Berarti tugas kita bukan mengurusi kapan mati? Melainkan apa yang harus dibawa saat mati nanti, apakah kebaikan atau keburukan? Tangisan atau senyuman? Kuncinya jangan hidup dibawah bayang-bayang kepasrahan, karena jika suasana pasrah sudah tercipta sesaat masih di dunia, niscaya anda tidak akan bawa apa-apa selain penyesalan.

لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.”
Yuk jangan lupakan kewajibanmu untuk membayar zakat atau beramal dalam bentuk apapun.
Zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958
Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak sedekah umum
💳 BSI 880 999 8817
Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 4803
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : http://instagram.com/sedekahku_percikaniman
Tiktok : http://tiktok.com/@sedekahkupercikaniman
Youtube : http://youtube.com/@SedekahkuPercikanIman