Search
Close this search box.

Inspirasi

Bahagiakan Dirimu Sendiri

Setiap orang pasti memiliki harapanya masing-masing atau ekspektasinya tersendiri dalam menjalani kehidupan, baik kehidupan rumah tangga atau kehidupan keluarga pasti selalu menaruh harapan tersendiri bagi setiap orang. Dan harapan itu ditentukan pada hubungan keterikatan antara satu sama lain, artinya harapan yang muncul selalu berbeda. Orang tua menaruh harapan anaknya supaya sekolah di institusi yang bergengsi, suami berharap istrinya menjadi sholehah, atasan berharap karyawannya bekerja secara optimal dan maksimal, dan ragam ekspektasi lainnya. Tapi dari harapan-harapan itu pernah gak sahabat atau siapapun menelan kekecewaan? Yah pasti pernah, kecewa disebabkan semua fakta yang diterima tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan. Tidak ada yang salah dengan harapan itu, hanya yang salah adalah menaruh harapan dan mengelola ekspektasi yang salah sehingga menelan pahitnya kekecewaan.

Maka saat kita menelan kekecewaan jangan pernah sama sekali menyalahkan orang lain. Seperti ketika kita berharap pasangan kita bisa melayani dengan baik dirumah, lalu pasangan kita malah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka jangan marahi pasangan kita, karena dia tidak salah sebab pasangan kita memiliki kekurangan yang harus diterima. Lalu siapa yang salah? tentunya yang salah adalah kita yang salah berharap dan tidak bisa mengelola ekspektasi dengan baik.

Dan selanjutnya kita pun tidak perlu menjalani hidup dibawah bayang-bayang ekspektasi orang lain apalagi hanya sebatas ingin diakui kita baik, diakui kita hebat, karena untuk jadi seperti itu tidak perlu diakui. Yang lebih parah adalah ketika kita hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain, karena hidup yang dijalani seperti ini akan cukup melelahkan. Karena tidak ada satu-satunya yang harus dipenuhi ekspektasi selain untuk Allah bukan untuk manusia. Karena kalau kita hidup untuk memenuhi ekspektasi orang dan kita sendiri berekspektasi kepada orang lain rasanya kita akan lelah dan akan berhenti melakukan sesuatu. Misalnya seperti ini, ketika kita memungut sampah, lalu kita punya keinginan supaya orang lain memuji atau memperhatikan sikap kita, disaat yang sama tidak ada satupun yang melihat kita, pasti disaat itu juga sahabat akan berhenti melakukan sikap yang mulia itu. Karena kita berharap ada yang melihat kepada kita. Inilah sebabnya apabila kita memiliki hasrat untuk diakui.

Maka jangan menjalani hidup berdasarkan penilaian apalagi ekspektasi orang lain, jika hidup seperti itu yang terjadi kita sedang menjalani kehidupan orang lain, bukan menjalani kehidupan sebagai diri kita sendiri. Apabila hidup kita untuk memenuhi ekspektasi orang lain maka saat yang sama begitu juga orang lain tidak hidup untuk memenuhi ekspektasi kita. Oleh sebab itu cukup bahagiakan diri kita sendiri tanpa didikte orang lain apalagi untuk sekedar memenuhi ekspektasi dan berekspektasi lebih kepada orang lain. Maka sudah saatnya kita bagikan pos-pos tugas kehidupan, maksudnya apa? Maksudnya adalah kalau kita berekspektasi kepada siapapun lalu seorang itu tidak melakukan sesuai ekspektasi kita, maka itu tugas kita sendiri yang harus mengelola kekecewaan dan jangan salahkan selain diri kita saja. Dan kita tidak memiliki keharusan untuk memenuhi ekspektasi orang lain, karena satu-satunya yang bisa menjalani hidup kita adalah diri kita sendiri atau demi diri kita sendiri.

Cukup rumit bukan? Makanya cukup saja gantungkan ekspektasi dan harapan kita kepada Allah. Untuk apa kita berharap kepada Allah? Tentunya untuk kebahagiaan dan kebaikan kita sendiri, karena kita berharap pahala-Nya, berharap ridho-Nya dan berharap surga-Nya. Jika hidup dijalani seperti ini akan jauh lebih tenang dan lebih damai dalam hidup. Dan catat! Tidak akan sama sekali menelan kekecewaan yang pahit, sebab Allah tidak pernah ingkar dengan janji-Nya, firman Allah SWT,

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

“Ia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya.” (Al Baqarah [2] : [286])

Nah ini kunci kebahagiaan kita, yaitu untuk meraih pahala-Nya. Kita berbakti melayani suami atau istri kita untuk meraih pahala Allah, kita memunggut sampah untuk meraih pahala Allah. Cukup berekspektasi saja kepada Allah, maka jika begitu niscaya sekeliling kita tidak akan pernah kecewa kepada kita dan kita pun tidak akan menelan kecewa juga. Dengan sendirinya perilaku atau sikap baik kita akan konsisten dan tidak akan mengikuti perasaan, seperti jika kecewa akan berhenti dan jika sesuai harapan akan terus dilakukan.

Yuk jangan lupakan kewajibanmu untuk membayar zakat atau beramal dalam bentuk apapun.

Zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958

Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak sedekah umum
💳 BSI 880 999 8817

Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 4803

Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya

Instagram : http://instagram.com/sedekahku_percikaniman
Tiktok : http://tiktok.com/@sedekahkupercikaniman
Youtube : http://youtube.com/@SedekahkuPercikanIman

Share: