Search
Close this search box.

Inspirasi

Berharap Hanya Kepada Allah

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ  

Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan doamu. Sesungguhnya, orang-orang sombong yang tidak mau menyembah-Ku akan masuk Jahanam dalam keadaan terhina.” (Ghafir [40] : 60)

Dalam hidup ada siklus di mana kita akan berada di posisi terendah dan merasa sangat hancur. Merasa hilang dan tidak tahu harus kemana jalan kembali pulang. Dilanjutkan tidak tahu arah, diam pun tidak mengubah apa-apa. Begitulah kadang-kadang hidup, tak selamanya berjalan mulus, kadang kala harus melewati lubang besar dan kebuntuan di tengah-tengah perjalanan. Kenyataan seperti itu akhirnya harus dihadapi meskipun tidak sedikit hilang keseimbangan antara hati dan pikiran. Tapi pertanyaannya apa sih kira-kira yang menyebabkan kita masih tetap bertahan ditengah gelombang badai ombak yang menerjang dalam kehidupan?

Tentu, jawabanya akan beragam. Mungkin ada yang menjawab karena keadaan, ada juga yang menjawab karena cinta, bahkan ada juga yang menjawab karena keluarga. Varian jawaban itu sifatnya subjektif. Namun ada jawaban yang pasti mengapa hingga hari ini kita masih terus bertahan melewati berbagai macam ujian yang Allah timpakan, yaitu karena berharap kepada Allah. Dengan kata lain yang membuat kita bertahan adalah harapan.

Coba kita perhatikan bukankah harapan kepada Allah yang menyebabkan Nabi Musa di beri pertolongan dengan mukjizat membelah laut merah dengan satu ketukan tongkat di tanganya saat-saat dihadapkan posisi tidak karuan, antara mundur tertangkap, maju pun malah tenggelam? Bukankah Nabi Muhammad yang diberi pertolongan saat bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy dengan jaring laba-laba yang menutupi gua? Jadi pertolongan-Nya sangat bergantung pada seberapa yakin dan berharap kepada Allah.

Dalam hadits qudsi diterangkan,

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ

“Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat)” (Muttafaq Alaihi)

Hadits diatas Allah berfirman bahwa, “ku sesuai persangkaan hamba-Ku”. Sahabat! Sebenarnya kalimat itu merupakan isyarat kepada kita agar terus berharap kepada Allah dengan cara husnudzon atau berprasangka baik kepada-Nya. Karena keberhasilan kita menghadapi ujian, cobaan dan pekerjaan sangat ditentukan oleh kebergantungan kita kepada Allah, seberapa besar prasangka kita kepada-Nya.

Yuk jangan lupakan kewajibanmu untuk membayar zakat atau beramal dalam bentuk apapun.

Zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958

Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak sedekah umum
💳 BSI 880 999 8817

Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 4803

Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya

Instagram : http://instagram.com/sedekahku_percikaniman
Tiktok : http://tiktok.com/@sedekahkupercikaniman
Youtube : http://youtube.com/@SedekahkuPercikanIman


Share: