Muhammad Natsir, seorang ulama, politikus dan sekaligus sosok pahlawan nasional adalah cerminan teladan anak bangsa kita, setiap pepatah dan nasehatnya selalu relevan menembus zaman. Pada suatu saat beliau pernah menyampaikan jawaban yang luar biasa ketika beliau diberi sebuah mobil dari tamunya. Natsir Menjawab, “Cukupkan yang ada. Jangan cari yang tiada. Pandai-pandailah mensyukuri nikmat.” Ternyata M Natsir hanya memiliki dua stel kemeja kerja yang sudah tidak begitu bagus. M Natsir tak malu menjahit kemejanya itu bila robek. Hal itu sampai membuat para pegawai Kementerian Penerangan mengumpulkan uang untuk membelikan M Natsir baju agar terlihat seperti menteri sungguhan.

Hari ini anak muda harus belajar kesederhanaan dari beliau, melalui nasehat dan pepatahnya, “pandai-pandailah mensyukuri nikmat.” Ini merupakan nasehat yang muncul dari hati yang kaya penuh dengan syukur nikmat. Kata-kata ini mencerminkan bahwa syukur atas nikmat itu bukanlah diukur dari banyak dan sedikitnya yang kita miliki, melainkan hati yang merasa cukup, sehingga hati menerima apa yang ada digenggaman kita dan tidak pernah mencari sesuatu yang tidak ada dalam genggaman kita. Inilah bentuk kekayaan hati, bukan benda apalagi materi. Dan sebelum kalimat itu, beliau mengatakan bahwa cukupkan yang ada. Artinya adalah manfaatkan dan terima dengan hati atas apa yang kita miliki. Tidak perlu melirik orang lain yang memiliki sesuatu lebih dari diri kita. Karena bagi Muhammad Natsir kekayaan itu adalah penerimaan atas apapun yang ada dalam kuasa kita, dalam artian ridho atas takdir Allah. Artinya Allah akan memberikan kekayaan kepada kita bukanlah bentuk materi, melainkan kecukupan dari apa yang dibutuhkan. Karena kaya dan miskin tidak pernah bisa mengukur seseorang itu sudah merasa cukup atau belum, sebab ada saja yang kaya tapi tidak pernah merasa cukup, atau sebaliknya, yang miskin malah selalu cukup dan dicukupkan.

Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُوْلُ : يَا ابْنَ آدَمَ! تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ، أَمْلأْ صَدْ رَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَكَ شُغْلاً، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكْ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)” (HR Tirmidzi)
Ternyata ukuran kecukupan menurut Rasulullah adalah hati yang kaya dan disibukkan hanya beribadah kepada Allah. Artinya hatinya selalu merasa syukur atas pemberian yang Allah berikan, sehingga kecukupan itu akan dirasakan dengan cara Allah akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan hamba-Nya. Makanya jika hati selalu merasa tidak cukup ditengah kondisi kekayaan yang berlimpah, maka hakikatnya dia itu miskin. Tapi kalau selalu merasa cukup ditengah kondisi serba kekurangan, maka artinya dia telah kaya. Sebab bersyukur kepada Allah baik ketika ada maupun tidak ada.
Orang yang hatinya selalu merasa cukup selalu didorong oleh panggilan keimanan, meski kekurangan dia tidak akan ragu buat menzakatkan, menshadaqahkan, sampai menginfakkan. Sebab hatinya dikuasai oleh jiwa yang suci akibatnya hartanya dikelolah ditangan orang yang benar. Tidak akan terjadi dan digunakan untuk yang haram apalagi maksiat. Seperti itu juga pribadi Muhammad Natsir, beliau tidak pernah meminta lebih selain hanya mencukupkan apa yang ada.
Yuk jangan lupakan kewajibanmu untuk membayar zakat atau beramal dalam bentuk apapun.
Zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958
Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak sedekah umum
💳 BSI 880 999 8817
Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 4803
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : http://instagram.com/sedekahku_percikaniman
Tiktok : http://tiktok.com/@sedekahkupercikaniman
Youtube : http://youtube.com/@SedekahkuPercikanIman