Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ
“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.” (HR. Muslim no. 2959)
Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim diatas sedang menjabarkan nasehat Rasulullah saw tentang hakikat yang abadi. Bahwa bagi Rasulullah saw yang abadi bukan yang digenggam dan dimiliki, melainkan yang dilepaskan dan diberikan. Artinya nasehat beliau mematahkan statement sebagian masyarakat yang mungkin menganggap memberi sama dengan mengurangi harta? Apakah benar seperti itu?
Akhirnya kita harus menyadari bahwa yang abadi bukanlah harta tapi amal dari harta tersebut, bukan jabatan tapi amalan dari jabatan itu, bukan juga mobil tapi amalan apa yang dihasilkan dari mobil itu? Intinya amal lah yang akan abadi disisimu dan diberikan balasan kebaikan jika memang layak untuk diberikan.
Yuk zakat sekarang juga, tunaikan Zakatmu melalui
BSI 888 9595 958
Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak Sedekah Umum
BSI 880 999 8817
Tunaikan Ibadah Qurban untuk kebahagiaan bersama, tunaikan melalui rekening
DSKL BSI 880 99988 44
Informasi dan Konfirmasi
081 1221 6667
0852 2118 4803
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : sedekahku_percikaniman
Tiktok : sedekahkupercikaniman
Youtube : SedekahkuPercikanIman