Akhir-akhir ini cuaca begitu dingin seperti tidak biasanya, yang terkadang panas dan gersang, namun berbeda dengan hari-hari ini, awan tampak mendung dari ketinggian hingga hitam dan bergerumbul sampai-sampai cahaya matahari jarang sekali menembus gumpalan awan. Di Bandung saja seperti dilansir dalam laman berita kompas bahwa pemerintah Kabupaten Bandung telah menetapkan status tanggap darurat bencana di enam kecamatan. Bencana tersebut dipicu curah hujan tinggi. Enam kecamatan di Kabupaten Bandung yang terdampak bencana tersebut, yaitu Kecamatan Banjaran, Arjasari, Pameungpeuk, Cangkuang, Rancabali, dan Pasirjambu, kini dalam status tanggap darurat bencana selama sepekan, mulai dari 7 hingga 13 November 2024.

Dalam menyikapi hujan di akhir-akhir ini banyak orang yang menyikapinya dari sudut pandang lain tanpa memperhatikan sisi hikmah di balik fenomena, atau sekedar fokus dari sisi lahiriahnya saja yang terkadang cenderung berpandangan dan beranggapan negatif. Tidak sedikit orang-orang beranggapan datangnya hujan akan berdampak banjir, mengakibatkan terhambatnya aktivitas sehari-hari, kedinginan sampai musibah dll, namun disisi lain ketika tidak ada hujan mereka mengeluh kepanasan, gerah, kehausan, mengakibatkan kebakaran bahkan sampai menyalahkan cuacanya. Padahal musibah-musibah itu turun di akibatkan ulah-ulah tangan manusia yang fasad (rusak). Semua ini hanya anggapan yang lahir dari ketidakmampuan akal manusia dalam mematik dan merenungi hikmah di balik fenomena melalui perenungan ayat-ayat Al Quran dan Hadits-hadits Nabi.

Sebab itu kita sebagai muslim yang taat sudah seharusnya merenungi ayat-ayat Al Quran dan Hadits sebagai upaya mematik hikmah dibalik tabir fenomena hujan yang kian mengguyur ke permukaan.
Pertama, dalam suatu riwayat hadits secara tersirat disebutkan bahwa hujan merupakan rahmat dari Allah Swt :
قَالَ أَنَسٌ أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَطَرٌ قَالَ فَحَسَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَوْبَهُ حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ. فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا قَالَ « لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى ».
“Anas –Radiyallauanhu- telah berkata : Kami bersama Rasulullah Saw pernah kehujanan, lantas Rasulullah Saw menyingkap pakaiannya hingga terkena air hujan. Maka kami bertanya kepada beliau : “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan itu?” beliau menjawab : “Dikarenakan hujan baru saja diturunkan Rabb-Nya”. (HR. Muslim)

Kedua, Allah menyebutkan bahwa hujan merupakan rizki yang diturunkan bagi kesuburan bumi, sehingga denganya keluar dan tumbuh buah-buahan, sayur-sayuran dll, Allah berfirman :
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal Allah mengetahui” (Al Baqarah [2] : 22)

Ketiga, dalam surat An Nahl ayat 10 secara eksplisit menyebutkan hujan sebagai sumber yang sekaligus bagi keberlangsungan kehidupan umat manusia, Allah berfirman :
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ
“Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagianya menjadi minuman dan sebagianya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu” (An-Nahl [16] : 10).

keempat, di lain ayat lebih jelas lagi bahwa air merupakan sumber air untuk di minum umat manusia, Allah berifrman :
أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ
“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum”(Al Waqiah [56] : 68)
As Sa’di menerangkan bahwa Allah menyebutkan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka berupa air yang tawar yang mereka dapat meminumnya, dan sekiranya jika bukan Allah yang memudahkannya dan menggampangkannya, dan Allah menunjukan jalan kepadanya, dan Allah yang menurunkannya dari (awan yang) mendung, yakni mendung dan hujan.

kelima, hujan dapat menumbuhkan banyak ragam tumbuhan, seperti korma, zaitun dll, Allah berfirman :
يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالْأَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan” (An Nahl [16] : 11)
Bahwa hujan yang Allah turunkan akan mengeluarkan dari kedalaman tanah berupa tumbuh-tumbuhan yang akan memberikan manfaat bagi umat manusia, dan mereka dapat memakannya. Menurut Ibn Katsir bahwa Allah akan mengeluarkan dari tanah dengan air yang satu, yang berbeda-beda macam nya (yang keluar) makananya, rasanya, baunya dan yang semacamnya.
Yuk jangan lupakan kewajibanmu untuk membayar zakat atau beramal dalam bentuk apapun.
Zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958
Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak sedekah umum
💳 BSI 880 999 8817
Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 4803
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : http://instagram.com/sedekahku_percikaniman
Tiktok : http://tiktok.com/@sedekahkupercikaniman
Youtube : http://youtube.com/@SedekahkuPercikanIman