Ada kata-kata dari Imam Ibn Athaillah, kata beliau gini, ” Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu oleh Allah dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dibebankan kepadamu, itu merupakan tanda butanya basyirah (mata batin).” Nah perhatiin untaian kalimat dari beliau. Kenyataannya hidup ini ada dalam dua garis penentuan, antara ketentuan dan tuntutan. Jadi kalau hidup sedang tidak dituntut artinya sahabat yang menentukan. Begitulah kira-kira hidup yang tengah kita jalani sampai detik ini.

Namun yang harus digaris bawahi adalah bahwa ketentuan akan sebanding dengan tuntutan. Seperti misalnya seorang pegawai di sebuah perusahaan, misalnya menerima gajih setiap bulan sebagai imbalan. Gajih ini bukan hanya sebagai imbalan atas kerjanya, tapi juga sebagai kepastian finansial yang memberikan rasa aman. Namun di balik jaminan ini, terdapat tuntutan yang harus dipenuhi oleh pegawai. Tuntutan ini mencakup target-target yang harus dicapai, tanggung jawab yang harus dijalankan. Nah kurag lebih seperti itulah konsepsi kehidupan yang kita jalani.

Allah menentukan apapun yang dibutuhkan oleh manusia, seperti rezeki, makanan, pakaian dan celana. Atau kurang lebih kebutuhan premier dan sekunder. Jadi Allah sudah menjamin sekaligus menentukan apapun untuk manusia. Namun tidak sebatas sana, tapi Allah juga menuntut hamba-Nya agar menjalankan perintah yang Allah berikan, seperti shalat, zakat, dan tuntutan lainnya.

Nah sampai sini berarti sudah jelas mana yang bagian Allah dan mana bagian kita. Bagian kita adalah menajankan tuntutan dan bagian Allah adalah menentukan. Tapi malangnya kita malah mengurusi yang bukan seharusnya kita urus. Pengen banyak uang, pengen kaya. Padahal banyak uang dan kaya bukan urusan kita lagi, urusan kita adalah menjalankan tuntutan berupa sedekah, zakat dan infaq. Bukan ingin kaya. Makanya kalau hidup dijalani dengan persepsi seperti ini rasanya akan melihat dunia tampak menyulitkan dan menyusahkan.

Nah berarti kalau kita punya uang tugas kita hanya sedekah, tidak lebih dari itu. Bukan malah ingin kaya. Biarkan itu ketentuan Allah yang berkuasa, kuasa kita sebatas menjalankan tuntutan, yaitu,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
Infakkan sebagian harta yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang menjemputmu. Lalu, ada yang menyesali, “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sesaat saja agar aku dapat bersedekah dan menjadi orang-orang saleh.” (Al Munafiqun [63] : 10)
Yuk jangan lupakan kewajibanmu untuk membayar zakat atau beramal dalam bentuk apapun.
Zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958
Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak sedekah umum
💳 BSI 880 999 8817
Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 4803
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : http://instagram.com/sedekahku_percikaniman
Tiktok : http://tiktok.com/@sedekahkupercikaniman
Youtube : http://youtube.com/@SedekahkuPercikanIman