Ada sepenggal cerita sufi yang menarik, cerita ini lebih populer diadopsikan kepada Hasan Al Bashri dan Rabi’ah. Saat itu Rabi’ah sedang mencari kunci rumahnya di tengah kondisi rumahnya yang gelap, tanpa penerangan. Namun usaha Rabi’ah tak kunjung menuai hasil, karenannya Rabi’ah mencoba keluar lewat jendela, lalu tak lama dari sana Rabi’ah langsung menyelidiki keberadaan kunci dari arah luar. Disaat saat mencari kunci, lewat lah Hasan Al Bahsri lalu bertanya dengan heran, “apa yang kamu lakukan wahai Rabi’ah?” Rabi’ah menjawab “aku mencari kunci rumahku, makanya aku keluar supaya aku bisa melihat dari arah terang” Tidak lama Hasan Al Bashri menjawab, “kalau kuncimu hilang didalam rumah, sementara rumahmu gelap, buatlah rumahmu menjadi terang, sehingga kamu mampu menemukan kuncimu yang hilang.”

Dari kisah menarik itu kita dapat satu kunci tentang bahagia, bahwa letak kebahagiaan itu kuncinya adalah terangi diri kita sendiri, atau terangi rumah kita, maka dengan sendirinya kita dapat menjadi makna bahagia versi diri kita sendiri. Makanya, kunci kebahagiaan kita yang sejati ada dalam diri sendiri yang sejati. Bagaimana kita dapat bahagia? jika diri sendiri sulit dikenali, jika tidak mampu mengenalinya, akan kesulitan menemukan bahagia sejati.
Kita jangan terjebak dengan kata bahagia adalah kaya, bahagia adalah jabatan, bahagia adalah kekuasaan. Tidak. Bahagia adalah diri kitaya yang sejati. Jika puncak bahagia adalah kepuasan dan ketuntasan, maka puas dan tuntas hanya dapat dilewati melalui pengenalan terhadap diri sendiri. Jika tidak tahu tentang segala yang ada dalam diri kita, maka jangan harap sampai puas dan tuntas, bahkan bahagia. Maka kenali diri kita siapa sih sebenarnya?

Yuk kita kenalan sama diri sendiri. Nah gimana sih caranya supaya kita kenal sama diri kita? Gampang kok, caranya adalah kenali siapa pencipta kita, karena pasti pencipta kita jauh lebih mengetahui diri kita yang sebenarnya. Oleh sebab itu coba kita cek Alquran, Allah SWT berfirman,
وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukanlah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,” (Al ‘Araf [7] : 172)

Coba deh kita mengenal diri lewat ayat ini. Dari ayat ini Allah menjelaskan bahwa sejak alam ruh Allah sudah bertanya kepada manusia, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Lalu setelah itu manusia menjawab, “Betul, kami bersaksi.” Artinya, kita diciptakan bukan sebatas sebagai manusia, melainkan manusia sekaligus sebagai hamba yang mengakui ketauhidan Allah. Sebab itu tidak jadi mulia jika sampai manusia, namun jadi mulia ketika merawat kehambaan yang ada pada diri kita, yaitu merawat tauhid dan keimanan kita kepada Allah dengan taat kepada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Nah sahabat inilah kunci bahagia yang sesungguhnya. Menjadi manusia dan menjadi hamba. Berarti tidak cukup bila hanya sadar pada level manusia, namun harus sadar lebih jauh yaitu level hamba.
Yuk jangan lupakan kewajibanmu untuk membayar zakat atau beramal dalam bentuk apapun.
Zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958
Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak sedekah umum
💳 BSI 880 999 8817
Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 4803
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : http://instagram.com/sedekahku_percikaniman
Tiktok : http://tiktok.com/@sedekahkupercikaniman
Youtube : http://youtube.com/@SedekahkuPercikanIman