وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا
Orang-orang yang tidak berlebihan apabila menginfakkan harta dan juga tidak kikir. Mereka ada di antara keduanya secara wajar, (QS. Al-Furqan [25] : 67)
Sahabat! Allah SWT tidak pernah melarang kita untuk kaya raya, bahkan Allah membebaskan kita agar memiliki harta sebanyak mungkin dan dipersilahkan, namun jangan pula kita menilai seseorang itu gila harta, karena seseorang dinilai gila harta atau dunia bukan karena memilikinya, tapi bagaimana mentasharufkan atau mengelolanya. Kita lihat bagaimana sosok Abdurrahman bin Auf, beliau merupakan satu diantara sahabat yang memiliki kekayaan yang luar biasa tapi kekayaannya tidak menyebabkan dia gila harta dan tidak ada yang menilai beliau gila harta. Begitu juga dalam cinta, Allah tidak pernah melarang siapapun untuk cinta kepada apapun, ada yang cinta kepada istrinya, kepada suaminya, harta, jabatan dan seluruh keduniaan yang lainnya. Tapi yang Allah larang adalah tindakan negatif atas nama cinta yang menyebabkan binasa dan celaka, ini yang Allah waspadai dan wanti-wanti. Makanya Islam tidak berkata, “Jangan makan”, “Jangan mencintai”, “jangan kaya” tapi Islam berkata, “Jika kamu lapar jangan mencuri”, “Jika kamu cinta jangan menyimpang dan maksiat”, “jika kamu kaya jangan lupa infaq dan zakat”. Seperti itulah Islam mendidik kita untuk tidak berlebih-lebihan.

Tidak ada salahnya jika kita mencintai harta atau kuasa, itu fitrah manusia, tapi yang Allah salahkan adalah ketika cintanya dituduh atas perlakuan maksiat. Maka yang harus dikendalikan adalah bagaimana mencintai agar tidak berlebih-lebihan. Nah sahabat, dalam Islam kata berlebihan diungkapkan dengan kalimat sarafa yang berarti boros atau menghambur-hamburkan, kata Ar Raghib artinya adalah berlebih-lebihan dalam segala perilaku manusia. Berarti Sarafa atau musrifin artinya kata yang menunjukan makna sifat yang dengan sendirinya bisa melekat pada siapapun, adapun bentuk seseorang melakukan perbuatan berlebih-lebihan adalah ketika melakukan sesuatu tanpa aturan disebabkan dorongan kuat oleh nafsu. Seperti sahabat berobat, ketika diberi obat untuk dikonsumsi sesuai resep dari dokter sahabat malah meminum sesukanya tanpa resep dokter, maka yang terjadi bukan sembuh tapi memperparah penyakitnya. Ini sedikit contoh kalau kita berlebihan. Sebab itu Islam tidak menyukai sifat berlebihan buktinya dalam praktek beragama saja Rasulullah pernah menegur Zainab,
دَخَلَ النَّبيُّ صلى الله عليه وسلم المَسْجِدَ فَإِذَا حَبْلٌ مَمْدُودٌ بَيْنَ السَّارِيَتَيْنِ، فَقَالَ: «مَا هَذَا الحَبْلُ؟» قالُوا: هَذَا حَبْلٌ لِزَيْنَبَ، فَإِذَا فَتَرَتْ تَعَلَّقَتْ بِهِ. فَقَالَ النَّبيُّ صلى الله عليه وسلم: «حُلُّوهُ، لِيُصلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَرْقُدْ». مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
“Nabi SAW memasuki masjid, ternyata ada seutas tali yang memanjang antara dua tiang. Beliau SAW. bertanya, “Tali apakah ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah kepunyaan Zainab, jika ia sudah merasa lelah, ia menggantung di situ.” Nabi SAW bersabda, “Lepaskan sajalah. Sebaiknya seorang melakukan shalat itu saat ia sedang bersemangat, jika sudah merasa lelah, baiknya tidur saja.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Dari kejadian tersebut menunjukan bahwa Rasulullah tidak pernah memerintahkan ibadah dengan berlebih-lebihan, tapi lakukanlah menurut aturan yang sesuai dengan kesanggupan. Oleh sebab itu tidak ada perintah atau ibadah yang sulit, yang ada hanya kita nya saja yang tidak suka atau salah paham terhadap agama. Dalam hadits lain,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ
“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidaklah seseorang mempersulit agamanya, kecuali ia sendiri yang akan dikalahkan oleh sikapnya (semakin berat dan sulit). Maka bersikap luruslah kalian, mendekatlah kepada kesempurnaan, bergembiralah (atas pahala yang menanti), dan manfaatkanlah kesempatan pada pagi dan sore hari serta sebagian waktu malam.” (HR. Bukhari, no. 38)

Allah dan Rasul-Nya melarang berlebih-lebihan sebab sesuatu yang melebihi aturan akan membahayakan, maka adanya aturan dari Allah dan Rasul-Nya adalah untuk memudahkan kita dalam beribadah ataupun dalam hal aspek yang lainnya. Olahraga itu baik, tapi jika berlebihan maka tidak benar, oleh sebab itu olahraga tidak jadi kebaikan untuk kita, obat pun baik, namun kalau dikonsumsi tanpa takaran itu tidak benar, maka obat tidak jadi kebaikan buat kita. Maka kuncinya jangan berlebih-lebihan, cukup sewajarnya saja tanpa dikurangi dan tidak dilebih-lebihkan melainkan pas.
Yuk jangan lupakan kewajibanmu untuk membayar zakat atau beramal dalam bentuk apapun.
Zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958
Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak sedekah umum
💳 BSI 880 999 8817
Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 4803
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : http://instagram.com/sedekahku_percikaniman
Tiktok : http://tiktok.com/@sedekahkupercikaniman
Youtube : http://youtube.com/@SedekahkuPercikanIman