وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِينَ
Mereka pun mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini kebenarannya. Perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berbuat kerusakan. (An Naml [27] : 14)
Sahabat Seiman! Dalam diri kita sebetulnya telah diberikan alarm atau alat detektor yang dapat menentukan baik dan buruknya suatu amal, alat ini tidak diberikan kepada siapapun kecuali hanya kepada manusia. Nama alat itu adalah hati nurani. Ini merupakan alat paling canggih yang pernah ada di dunia ini, sebab alat ini menjadi detektor dan yang akan mampu mengkontrol kehidupan kita apabila alat ini dijaga dan dirawat dengan baik. Makanya dalam suatu hadits Rasulullah SAW bersabda,
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (HR Bukhari)

Menurut hadits diatas artinya adalah jika hati itu bersih dan terawat dengan baik, maka seluruh kehidupan yang kita jalani termasuk kita akan terlihat dengan baik, sebaliknya jika kehidupan kita rasanya maksiat terus, menjalani larangan terus artinya ada yang tidak beres dengan hati kita. Itulah kesaktian hati yang ada dalam diri kita. Tapi sahabat seiman, pernah gak sih lihat atau dengar kasus kejadian kaya asusila sampai pelecehan seksual? Sekurang-kurangnya pernah dengar dari berita ya kan? Pertanyaannya kenapa orang-orang masih melakukan tindakan tercela padahal sudah dianugerahi hati nurani yang bisa mendeteksi keburukan dan menentukan kebaikan? Pasti ada yang jawab karena keimananya hilang atau kurang dan tidak meyakini adanya hari akhir. Ini benar kok, gak salah. Tapi masalahnya ada juga pelaku asusila atau pelecehan seksual itu adalah penyuluh agama yang suka menerangkan keimanan kepada Allah dan hari akhir.

Lalu apa sih penyebabnya? Bukan imannya yang kurang, sebetulnya imannya masih ada, hanya saja dia tidak jujur kepada hatinya atau keimananya. Kalau dia jujur kepada hatinya atau keimananya, pasti dia memilih tidak melakukan kejahatan atau tindakan kriminal, karena dia jujur dan tahu bahwa perilaku seperti itu adalah keburukan jauh dari kebaikan. Seperti yang ada dalam ayat diatas, surat An Naml ayat 14, mereka meyakini kebenaran, namun ucapanya malah mengingkari apa yang dia yakini benar. Berarti mereka berdusta dan tidak jujur kepada keyakinan atau hati nuraninya sendiri, sebab itu orang yang seperti itu dicap sebagai orang yang dzalim dan sombong.

“Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke sorga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka.Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong” (HR Muslim)
Yuk jangan lupakan kewajibanmu untuk membayar zakat atau beramal dalam bentuk apapun.
Zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958
Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak sedekah umum
💳 BSI 880 999 8817
Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 4803
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : http://instagram.com/sedekahku_percikaniman
Tiktok : http://tiktok.com/@sedekahkupercikaniman
Youtube : http://youtube.com/@SedekahkuPercikanIman