Search
Close this search box.

Inspirasi

Keimanan Adalah Fitrah Manusia

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «‌كُلُّ ‌مَوْلُودٍ ‌يُولَدُ ‌عَلَى ‌الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ» ، قَالَ: ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ: «وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: {فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا}

“Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai seorang Yahudi, Nasrani dan Majusi (penyembah api). Sebagaimana seekor binatang ternak yang melahirkan anak, apakah kalian merasa jika anak yang dilahirkannya cacat hidung atau telinganya?” Kemudian Abu Hurairah berkata, “Bacalah oleh kalian (Ar Rum [30] : 30)

Allah menciptakan manusia tidak semata bentuk dan rupa, melainkan Dia telah melengkapi potensi pada manusia berupa kecenderungan atau sifat bawaan yang menyertainya. Kecenderungan ini merupakan bekal lengkap yang diberikan oleh Allah untuk mengarungi samudera kehidupan di dunia menuju tujuan keabadian. Namun semakin perjalanan nya jauh, manusia semakin lupa tujuan awal pemberangkatan, dan bekal perjalanan pun semakin hari kian menipis dan habis disebabkan perjalanan yang menempuh jarak jauh dan menyimpang kesana kemari. Akhirnya dia kehilangan dirinya, luntang lantung tanpa arah, kehilangan tempat pulang, pergi pun tak tahu tujuan. Dalam kondisi situasi seperti itu manusia telah kehilangan fitrahnya.

Bekal yang diberikan Allah adalah fitrah, yaitu berupa kecendrungan manusia yang menjadi sifat asli bawaanya sejak manusia dilahirkan. Yang dibawa manusia dari awal mula penciptaanya adalah berupa fitrah keimanan. Ini telah diisyaratkan oleh Allah dalam surat Al ‘Araf ;

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا

“Bukankah aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, “Betul, kami bersaksi” (Al ‘Araf [7] : 172)

Ayat ini menjelaskan tentang awal dialog manusia dengan penciptanya ketika masih di alam ruh yang berisikan persaksian ruh tentang pengakuanya terhadap Allah sebagai ma’bud dan mengakui ketauhidan Allah. Artinya dari sini dapat kita ambil kesimpulan sementara bahwa manusia memiliki tabiat berupa ketauhidan dan keimanan kepada Allah yang merupakan potensi yang harus di pelihara dan di kembangkan. Kecenderungan ini membawa manusia pada kebaikan dan menjauhi keburukan. Ini asal sifat bawaan manusia berupa agama yang hanif.

Oleh sebab itu rasanya manusia pasti memiliki benih-benih kekuatan yang dapat menegakkan aturan-aturan dan perintah Allah, tabiat bawaannya selalu mengarah dan mengajak kepada unsur-unsur yang dapat menggugah keimanan dan ketakwaan mereka. Karena tabiat inilah manusia tidak memiliki alasan yang pasti untuk mengingkari aturan-aturan Allah, tidak ada alasan untuk menyekutukan dan melanggar perintah Allah.

Manusia pada hakikatnya cenderung pada nilai yang positif, dalam Islam seperti yang disebutkan sebelumnya ialah berupa fitrah. Namun disebabkan ditraksi-ditraksi dari lingkungan dan cara berpikir yang membuat manusia menyimpang. Jadi sebenarnya ketika manusia lahir tidak seperti kertas kosong yang polos tanpa ada coretan tinta sama sekali, melainkan dengan coretan fitrah.

Fitrah itu sendiri adalah diterangkan oleh Allah

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah. (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar Rum [30] : 30)

Yang membawa manusia kearah positif karena memang fitrah dalam diri jiwa kita mengalir berupa kalimat tauhid laaillahaillalah. Kalimat inilah yang diletakkan oleh Allah dalam ruh jiwa kita. Makanya hakikatnya dalam jiwa kita selalu mendamba-dambakan kebaikan, karena sesuai seruan dalam jiwan kita berupa tauhid yang pasti mutlak selalu menyeru pada kebaikan-kebaikan. Artinya kita sebetulnya telah membenci keburukan dan menyukai kebaikan.

Seiring bergerak nya waktu, yang diamati dari perjalananya telah membawa pada kelupaan asal pemberangkatannya dan arah tujuannya, disebabkan godaan yang terus menghantam mereka di tengah-tengah semakin terkikisnya sisi keimanan dan ketauhidan mereka. Yang seharusnya mereka tahu mana kebaikan dan mana keburukan, kebaikan yang harus diburu dan keburukan yang harus dihempaskan, kini berbanding balik dari fitrahnya sebagai manusia.  Dari yang seharusnya semula mematuhi nasehat guru, tunduk patuh pada ayat-ayat sebagai petunjuk peta perjalanan, yang semuanya mengarah agar bertaqarrub kepada-Nya. Sekarang malah melawan arah melawan arus, malah lebih ironisnya lebih condong pada keburukan ketimbang kebaikannya. Dari sini sebetulnya sudah terlihat bahwa hakikatnya manusia telah mengetahui dan condong kepada kebaikan, dan benci pada keburukan, namun mengapa yang terjadi terbalik dari hakikat kenyataannya. Ini semua diakibatkan terjerumus pada lingkungan yang salah!

Yuk jangan lupakan kewajibanmu untuk membayar zakat atau beramal dalam bentuk apapun.

Zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958

Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak sedekah umum
💳 BSI 880 999 8817

Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 4803

Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya

Instagram : http://instagram.com/sedekahku_percikaniman
Tiktok : http://tiktok.com/@sedekahkupercikaniman
Youtube : http://youtube.com/@SedekahkuPercikanIman

Share: