Alkisah seorang pemuda bertanya kepada ayahnya, “Yah aku ingin cerita tentang temanku di sekolah” Jawab ayahnya, “Okey nak, ayah akan dengarkan.” pemuda itu bercerita “Aku punya teman dia ceria dan hebat banget, bahkan di sekolah dia selalu jadi sorotan dan perhatian orang-orang, udah pinter ramah lagi. Tapi yah, aku tidak seperti dia, aku jelek dan tidak pandai seperti temanku ini, apakah akau bisa seperti dia yah?” Ayahnya tersenyum lalu menjawab, “Jadi kamu ingin seperti dia? menurut ayah, kamu tidak akan bisa menjadi seperti dia” Dengan kaget pemuda itu menjawab, “Hah?”, “Memang tujuan kamu apa ingin seperti dia?” Jawab ayahnya, lalu pemuda itu menjawab dengan semangat “Aku hanya kagum padanya ayah dan aku akan merasa lebih bahagia kalau aku bisa seperti dia”, “Maksudnya kamu akan jauh lebih bahagia kalau menjadi seperti dia” Saut ayahnya. Setelah itu ayahnya melanjutkan, “Berarti saat ini kamu belum bisa benar-benar bahagia. Ini karena kamu belum bisa mencintai dirimu sendiri. Dan untuk mencoba mencintai dirimu sendiri kamu berharap bisa terlahir sebagai pribadi yang berbeda.”

Pemuda itu menjawab jujur bahwa apa yang diucapkan ayahnya memang benar dan faktanya dia sedang membenci dirinya sendiri, lalu pemuda itu dengan penuh penasaran menanyakan kepada ayahnya, “Kalau ayah gimana? Apa menyukai diri ayah sendiri?” Ayahnya menjawab dengan tegas, “Sekurang-kurangnya ayah tidak ingin menjadi orang lain dan menerima diri ayah apa adanya.” Begitu dengar jawaban ayahnya, pemuda itu penasaran, “Menerima diri ayah apa adanya?”
“Begini nak, tidak peduli sebesar apa harapanmu untuk menjadi temanmu itu, tapi kamu tidak bisa dilahirkan kembali seperti dia. Karena kamu bukan dia. Dan bagi ayah kamu mau menjadi diri sendiri itu tidak masalah. Tapi ayah juga tidak berkata bahwa dengan menjadi dirimu sendiri itu sudah cukup. Tidak nak. Yang menjadi masalah dan tidak beres adalah ketika kamu tidak benar-benar bahagia dengan keadaan kamu saat ini. Kamu harus melaju dan jangan berhenti” Saut ayahnya yang penuh nasihat.

Setelah itu ayahnya memberikan nasehat penting kepada anaknya, “Yang penting bukanlah dengan apa seseorang dilahirkan, namun bagaimana memanfaatkanya.” Artinya pemuda itu ingin menjadi seperti temanya karena pikiranya terlalu fokus pada pemikiran ingin dilahirkan seperti apa, justru seharusnya adalah bagaimana memanfaatkan apa yang sudah terjadi dan apa yang ada dalam diri kita. Sebelum kita bisa jauh memanfaatkan apa yang ada dalam diri kita, baik itu potensi diri atau kemampuan hingga bakat yang dimiliki maka kita harus menerima terlebih dahulu. Yaitu dengan memperhatikan pada hal-hal yang bisa ditingkatkan dalam diri kita, seperti kekurangan hingga kelebihan. Adapun kita ingin lahir seperti apa, tentu itu tidak bisa kita rubah. Makanya hidup ini sangat sederhana sebetulnya, kita saja yang membuatnya rumit.
Syukuri pada hal-hal kelebihan atau kekurangan yang ada pada diri kita dengan terus berubah juga meningkatkan diri pada taraf yang lebih baik lagi tanpa membandingkan diri sampai ingin dilahirkan seperti pribadi yang lain. Ketika seseorang sudah mampu menerima diri sendiri maka ketika dia tidak mampu melakukan sesuatu dia akan menerimanya dengan mengatakan, “Aku tidak mampu” lalu melangkah maju agar bisa melakukan apa yang bisa dilakukannya. Bagi yang sudah dapat menerima diri ketika kalah tidak akan mengatakan, “aku sial” ketika gagal atau memiliki kekurangan, tapi akan mengatakan, “bagaimana agar aku bisa lebih baik dan masih banyak cara lain.” inilah penerimaan diri.

Sahabat jangan-jangan hingga hari ini yang membuat sahabat belum bahagia adalah tidak adanya penerimaan kepada diri sendiri. Sehingga tidak mampu mengenali kelebihan, terlalu fokus kepada kekurangan dan cenderung mengharapkan sesuatu diluar kita sendiri. Coba mulailah temukan kelebihan dan kekurangan kita lalu terima apa adanya tanpa membandingkan kelebihan atau kekurangan diri kita dengan orang lain sampai ingin terlahir seperti orang lain. Tugas kita sebatas itu, yaitu terima lalu manfaatkan apa yang ada dengan menyadari kelebihan untuk lebih baik lagi dan menyadari kekurangan dengan terus belajar.
Yuk jangan lupakan kewajibanmu untuk membayar zakat atau beramal dalam bentuk apapun.
Zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958
Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak sedekah umum
💳 BSI 880 999 8817
Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 4803
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : http://instagram.com/sedekahku_percikaniman
Tiktok : http://tiktok.com/@sedekahkupercikaniman
Youtube : http://youtube.com/@SedekahkuPercikanIman