Hutang itu tidak ada salahnya selama kita memang bisa mampu melunasinya, dengan catatan mampu melunasinya disuatu hari atau bulan yang sudah disepakati. Selain itu hutang pun harus sesuai aturan syariat Islam. Jangan sampai terlilit hutang yang ada riba nya atau pelanggaran syariat lainnya. Kenapa sih harus diatur? eits jangan salah yah sahabat, soalnya soal hutang piutang itu ngerinya minta ampun.
مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ
“Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (khianat), dan [3] hutang, maka dia akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).
Tuh kan sampai bisa jadi penghalang masuk surga hanya karena hutang. Artinya harus benar-benar teratur dan terukur oleh syariat agar selamat. Soalnya beberapa minggu terakhir media sosial dihebohkan dengan Seorang ibu di Banjaran, Kabupaten Bandung yang memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di tiang pintu kamar. Dua anaknya yang berusia 11 bulan dan 9 tahun diduga telah diracun terlebih dahulu oleh sang ibu.
Kepala Bidang Humas Polda Jabar Komisaris Besar Polisi Hendra Rochmawan telah mengkonfirmasi peristiwa tragis tersebut. Ia menjelaskan sang ibu diduga telah meracun kedua anaknya sebelum gantung diri. Lebih ngerinya lagi alasan di balik bunuh diri dan meracuni dua anaknya adalah karena lilitan hutang yang tak ada ujungnya. Ini ada cuplikan surat wasiat yang ditulis sebelum mengakhiri hidupnya,
Mama, bapak, ibu, teteh, aa, semuanya maafkan saya, maafkan saya melakukan hal ini.
Saya sudah lelah lahir batin, saya sudah tidak kuat menjalani hidup seperti ini. Saya lelah hidup terhimpit utang yang tidak ada habisnya, malah semakin lama semakin bertambah. Sementara saya sendiri tidak tahu utang ke siapa saja, berapa jumlahnya, atau dari mana asalnya…
Saya lelah punya suami yang hanya besar omongan dan penuh kebohongan, tidak ada kesadarannya. Saya lelah terus disakiti, padahal orang lain sudah mengucilkan, banyak yang membicarakan, banyak yang merasa jijik, sementara saya sendiri merasa tidak salah.
Punya suami malah semakin banyak bohong dan utang, CAPEEEEEEEEEEEEE. Saya pikir kalau saya dan anak sudah mati, mungkin dia baru sadar. Kalau pun tidak sadar ya biarlah, yang penting tidak menyengsarakan anak saya.
Saya malu dan kasihan terus merepotkan kakak dan orang tua. Kalau saya sudah tidak ada, setidaknya tidak akan terus merepotkan.
Maafkan saya karena tidak bisa membalas budi kepada orang tua dan kakak-kakak.
Sahabat seiman mari kita lebih perhatian dan peduli kepada sahabat yang lebih membutuhkan, sebab masih banyak diluaran sana yang belum bisa menikmati sajian makan yang enak, membutuhkan uang untuk belanja kebutuhan, dll. Barangkali kita harus membantunya.
Yuk zakat sekarang juga, tunaikan Zakatmu melalui
BSI 888 9595 958
Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak Sedekah Umum
BSI 880 999 8817
Tunaikan Ibadah Qurban untuk kebahagiaan bersama, tunaikan melalui rekening
DSKL BSI 880 99988 44
Informasi dan Konfirmasi
081 1221 6667
0852 2118 4803
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : sedekahku_percikaniman
Tiktok : sedekahkupercikaniman
Youtube : SedekahkuPercikanIman