Search
Close this search box.

Inspirasi

Palestina Duka Kita Bersama

Awal sejarah konflik Palestina-Israel dimulai dari abad ke-20 saat mereka berambisi membangun tanah Yahudi sudah ada sejak akhir abad ke-19 yang diawali oleh Pamphlet The Jewish State yang ditulis oleh Theodor Herzl seorang Yahudi Austria-Hungaria. Saat itu Palestina merupakan bagian dari kekasiaran Ottoman. Namun kesultanan ottoman kalah oleh Inggris dalam perang dunia I, saat itu juga wilayah Palestina dicaplok oleh Inggris. Lalu muncul deklarasi Balfour pada tahun 1917 yang mendukung berdirinya rumah nasional Yahudi di tanah Palestina, sebab itu pada tahun yang sama imigrasi Yahudi ke tanah Palestina meningkat drastis sehingga semakin hari ketegangan Yahudi dan Arab Palestina mulai tumbuh.

Karena ketegangan antara mereka semakin memanas maka setelah berakhir perang dunia ke II PBB mengambil alih mandat atas Palestina dengan membagi wilayah tersebut menjadi dua negara, satu untuk Yahudi dan satu lagi untuk Arab Palestina. Pembagian tersebut diadopsi sebagai Resolusi PBB Nomor 181 pada tahun 1947. Namun, Arab Palestina menolak pembagian tersebut, memicu Perang Arab-Israel pertama pada tahun 1948 yang dimenangkan oleh Israel, yang mengakibatkan pembentukan negara Israel dan pengungsian rakyat Palestina.

Maka pada tahun 1948 negara Israel resmi didirikan. Hal ini mengakibatkan pengusiran massal ribuan hingga jutaan warga Arab Palestina. Hingga peristiwa ini dikenang dengan nama Nakba. Ketegangan konflik ini terus berlanjut beberapa kali, seperti perang enam hari pada tahun 1967, lalu perang yom kippur di tahun 1973. Situasi semakin rumit dan sulit. Pendudukan Israel atas Tepi Barat dan Jalur Gaza pada tahun 1967 menciptakan ketegangan dan perlawanan yang berkelanjutan dari kelompok-kelompok Palestina. Pada masa inilah muncul Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Hamas.

Upaya-upaya perdamaian pun telah diupayakan namun selalu tidak menemukan titik temu, seperti perjanjian OSLO pada tahun 1993 antara Israel dan PLO, atau perundingan Camp David pada tahun 2000 yang hampir mufakat namun akhirnya gagal juga. Banyak negara yang terlibat sebagai mediator dalam konflik ini namun tidak menemukan ujungnya, seperti negara Indonesia yang konsisten mengutuk penjajahan atas hak-hak tanah Palestina yang dilakukan Yahudi.

Negara Indonesia terus berusaha konsisten dan menciptakan perdamaian antara Palestina dan Israel, selain itu juga kita terus mengecam tindakan-tindakan biadab yang telah menyebabkan kerugian dan kehilangan nyawa dalam skala yang sangat besar untuk tanah Palestina. Kita tidak bisa membayangkan berapa puluh juta nyawa yang telah hilang disebabkan konflik dari tahun 1917 sejak deklarasi Balfour sampai sekarang, artinya sudah 107 tahun konflik ini terus berlangsung.

Jika diperhatikan dibeberapa tayangan media yang tersebar, kita telah menerima tumpukan informasi dan berita yang menggugah dan menguji keimanan kita, membakar dan menyayatkan hati kita. Dimana saudara kita nun jauh disana, di tanah Al Quds ditindas dan dibantai habis-habisan oleh zionis israel laknatullah, bahkan menurut salah satu penduduk gaza, bahwa hari ini yang dilakukan zionis laknatullah bukan lagi sebuah peperangan, melainkan pemusnahan total. Belum lagi laman-laman media hari ini terus menerus menampilkan perkembangan Palestina, semakin hari hati kita semakin terluka, geram melihat kelakuan kaum zionis laknatullah.

Serangan rudal, selongsong peluru sampai alutsista lainnya terus menghujani tanah Palestina yang menyebabkan tidak sedikit menjadi syuhada. Menurut data Kementerian Kesehatan di Gaza yang dikuasai Hamas melaporkan setidaknya 40.738 orang tewas selama lebih dari 11 bulan terakhir sejak Israel menyerang Gaza. Fakta korban berjatuhan ternyata tidak menghentikan kekejian mereka, buktinya ulah Israel semakin keterlaluan. Israel menyerang zona kemanusiaan yang ditinggal para pengungsi Palestina di wilayah Selatan jalur Gaza. Akibatnya 40 orang tewas dan 60 orang lainnya mengalami luka-luka, hal ini di klaim oleh militer Tel Aviv pada hari selasa tanggal 10 September 2024.

Lebih keji lagi Israel memblokade pasokan bantuan kemanusiaan dan medis untuk Palestina akibatnya rumah sakit kekurangan persediaan obat, termasuk obat penghilamng rasa sakit. “Karena kurangnya persediaan obat penghilang rasa sakit kami terpaksa membiarkan pasien-pasien menjerit selama berjam-jam,” begitu pengakuan seorang dokter Palestina. Menunjukan bahwa Israel tidak hanya menyasar anak kecil atau perempuan saja, tapi akses fasilitas untuk mendapatkan bantuan pun tidak luput dari sasaran penyerangan. Akibatnya banyak mobil ambulance yang rusak sehingga membatasi kemampuan para medis untuk menjangkau korban yang membutuhkan bantuan dengan cepat.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Tentu hal utama dan pertama adalah kesadaran bahwa kita juga bagian mereka, saudara mereka, keluarga mereka yang tidak boleh bungkam dan diam atas kekejian yang dilakukan zionis Israel. Free Palestine! Free Palestine!.

 Yuk jangan lupakan kewajibanmu untuk membayar zakat atau beramal dalam bentuk apapun.

Zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958

Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak sedekah umum
💳 BSI 880 999 8817

Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 4803

Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya

Instagram : http://instagram.com/sedekahku_percikaniman
Tiktok : http://tiktok.com/@sedekahkupercikaniman
Youtube : http://youtube.com/@SedekahkuPercikanIman

Share: