Kadang kita bertanya, apa sih pentingnya sejarah? Terus kenapa sampai hari ini lembaran-lembaran sejarah terus ditulis seperti tidak ada habis-habisnya sejarawan menulis peristiwa-peristiwa masa lalu. Jawabanya sangat sederhana, justru sejarah itu ada agar kita lebih waspada dan hati-hati dalam melangkah. Namun selain itu adalah untuk menambah semangat kita dalam menjalani kehidupan ini. Coba deh sahabat rasakan dan bedakan, ketika sahabat sedang merasakan futur lalu sahabat teringat dan membaca kisah-kisah orang-orang hebat dahulu dalam berjuang. Pasti deh itu rasanya semangat yang awalnya redup, kini menjadi berapi-api. Makanya tidak heran kan kenapa yang paling banyak disebutkan Alquran adalah tentang kisah.

Namun yang terpenting bukan semangatnya saja, tapi bagaimana kita bisa menjaga semangat itu agar terus berkobar. Dan itu bisa dengan membaca kisah-kisah dan hikmah orang terdahulu. Salah satunya adalah dengan membaca kisah para sahabat. Sekarang kita sama-sama baca dan saksikan bagaimana sejarah mengungkap semangat sedekah para sahabat.

عَنْ أَبِيْ مَسْعُودٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْروٍ الأَنْصَارِيِّ الْبَدَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ آيَةُ الصَّدَقَةِ كُنَّا نُحَامِلُ عَلَى ظُهُورِنَا. فَجَاءَ رَجُلٌ فَتَصَدَّقَ بِشَيْءٍ كَثِيْرٍ فَقَالُوا: مُرَاءٍ، وَجَاءَ رَجُلٌ آخَرُ فَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ فَقَالُوْا: إنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنْ صَاعِ هَذَا، فَنَزَلَتْ { الَّذِيْنَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِيْنَ لَا يَجِدُونَ إِلاَّ جُهْدَهُمْ } [ التوبة ٧٩ ] الآية.
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu ia berkata:
“Setelah turun ayat yang memerintahkan sedekah, kami memanggul harta sedekah kami, ada seseorang yang datang dengan membawa harta sedekah yang sangat banyak, kemudian orang-orang munafik berkata, “Orang itu sedekah karena riya.” Kemudian datang orang lain yang bersedekah satu sha’, kemudian orang-orang itu berkata, “Sungguh Allah tidak membutuhkan harta sedekah satu sha’ ini.” Maka turunlah firman Allah Ta’ala:
“(Orang munafik) yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberi sedekah dengan sukarela dan yang (mencela) orang-orang yang hanya memperoleh (untuk disedekahkan) sekadar kesanggupannya.” (QS. At-Taubah: 9: 79).

Perhatikan disini, kalau sudah ada ayat yang turun kepada Rasulullah SAW mereka tidak perlu waktu lama buat mengamalkanya. Buktinya dalam hadits ini ketika turun ayat tentang sedekah seketika para sahabat langsung memanggul harta, bayangkan sama anda, mereka memanggul harta sedekah. Berarti sedikit atau banyak? Tentu harta yang bakal disedekahkan tidak sedikit. Itulah cuplikan kehebatan dan semangat antusias para sahabat dalam menyambut ayat yang turun.
Nah sekarang ayat Alquran sudah turun secara sempurna, apakah masih khawatir sama uang yang disedekahkan? Malu lah sama para sahabat dalam bersedekah, mereka tidak sekaya kita, tapi kenapa tidak tanggung-tanggung kalau sudah sedekah. Abdurrahman bin Auf saja pernah menyedekahkan separuh hartanya. Setelah itu dia bersedekah lagi sebanqak 40.000 dinar. Kebanyakan harta bendanya diperoleh dari hasil perdagangan. Bahkan beliau pernah memerdekakan 3000 orang hamba sahaya. Lalu Imam Bukhari menyebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf pernah memberikan 400 dinar kepada 100 orang pasukan di perang badar.
Yuk jangan lupakan kewajibanmu untuk membayar zakat atau beramal dalam bentuk apapun.
Zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958
Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak sedekah umum
💳 BSI 880 999 8817
Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 4803
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : http://instagram.com/sedekahku_percikaniman
Tiktok : http://tiktok.com/@sedekahkupercikaniman
Youtube : http://youtube.com/@SedekahkuPercikanIman