Banyak sahabat kita diluaran sana yang masih belum memiliki tempat tinggal yang layak huni. Sehingga tak sedikit yang berharap memiliki atap perlindungan supaya atapnya tidak lagi langit dan alasnya tidak lagi dari kardus seadanya. Itulah yang diharapkan sebagian sahabat kita hingga hari ini. Bahkan kebanyakan orang yang mau nikah pasti berharap memiliki rumah terlebih dahulu untuk tinggal, akibatnya mencoba mapan sebelum nikah, ya minimal punya rumah buat tempat kita tinggal nanti. Begitu ujar orang-orang yang ingin nikah. Tidak ada yang salah dengan semua itu, dan memang wajar kalau mereka mengharapkan rumah layak untuk mereka tidur, istirahat dan aktifitas lainnya. Itu semua adalah Impian dan harapan mereka untuk Bahagia bersama keluarga sederhananya, yaitu rumah bersama.
Namun kalau kita coba perhatikan dan bandingkan dengan sahabat kita yang tinggal di kolong jembatan dan di rumah mewah. Bukan bandingkan bangunannya, tentu beda jauh. Tapi coba perhatikan kehidupan didalamnya. Mereka yang tinggal di kolong jembatan atau pinggiran jalan tampak mudah untuk ketawa, tampak mudah untuk ceria. Bahkan kadang mereka melakukan cara sederhana untuk membahagiakan diri mereka, hanya sedikit berbagi diantara mereka telah menjadikan rautan senyum yang Bahagia dalam lukisan wajah-wajah mereka. Sesederhana itu, mereka tampak harmonis dan romantic meski hidup dengan kondisi ala kadarnya.

Tapi coba kalo sahabat lihat orang-orang yang hidup di kota, meskipun tidak semuanya seperti itu banyak yang tersendat dan terhalang gadget dalam berkomunikasi, jasad mereka mungkin serumah, tapi pikiran dan rasa kemanusiaan untuk modal bahagia, harmonis dan romantis mereka tak bersama. Coba deh sahabat mungkin kenal sama slogan jaman dulu, yaitu “rumahku surgaku” atau “rumahku istanaku” bahkan Nabi SAW menyebut rumah beliau dengan baiti jannati, kenapa bisa seperti itu? Karena dalam rumah mereka terbalut kebersamaan dalam bingkai harmonis dan romantis. Yang bersama bukan jasadnya saja, tapi hati dan pikirannya pun ikut tinggal bersama. Bersama dalam kebaikan, bersama dalam kesholahan dan kebermanfaatan.
Artinya untuk bersama tidak melulu tentang rumah, makanya ada sebagian orang yang bilang ini rumah saya kedua, padahal secara kepemilikan bukan miliknya, lalu kenapa bilang “ini rumah kedua saya?” Bukan karena bangunannya, tapi bersamanya. Jadi yang bersama belum tentu serumah. Tapi jauh lebih indah apabila serumah lalu bersama. Syaratnya sederhana, hindari peluang-peluang yang berpotensi tidak bersama, maka serumah tidak boleh saling iri, hasud apalagi dengki. Kita mesti benar-benar bersama dalam rumah yang sama. Maka disana akan terlukis dalam bingkai lukisan kebersamaan.

Dalam Alquran diungkapkan dengan ukhuwwah, yaitu saudara yang bukan karena tali nasab, melainkan keimanan. Artinya yang menyebabkan kita bersama adalah ukhuwwah, bukan tali nasab, tapi yang menghubungkan satu sama lain adalah keimanan kita kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda,
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Dari Abu Hamzah, Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan.” (HR Bukhari) Maka kunci bersama adalah saling mencintai dalam kebaikan berdasarkan keimanan, bukan saling membenci apalagi mencaci.
Yuk zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958
Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak Sedekah Umum
💳 DSKL BSI 880 99988 44
Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 480
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : sedekahku_percikaniman
Tiktok : sedekahkupercikaniman
Youtube : SedekahkuPercikanIman