Jika kita memperhatikan kembali definisi shaum sebagai;
الإِمساك عن الطعام والشراب والجماع في النهار مع النيّة
Menahan makan, minum dan jima’ di siang hari disertai niat. (Tafsir Shofwah Tafasir)
Maka yang terlihat tatkala melaksanakan definisi shaum diatas, seolah kita sudah melaksanakan shaum yang berkualitas. Saat sudah menahan makan, minum dan jima’, maka kita sudah melaksanakan shaum berkualitas. Akibatnya banyak sekali yang mengabaikan aspek ruhiyah shaum, oleh sebab itu Imam Qusyairi membagi shaum kepada dua pembagian;
- Shaum dzahir
- Shaum batin
Shaum yang pertama hanya sebatas menahan rasa dahaga, lapar dan jima’, namun shaum jenis kedua lebih pada menahan hati dari hawa nafsu yang cenderung pada perbuatan yang hina. Maka mana yang lebih berkualitas dari kedua shaum ini? Tentu jenis kedua yang lebih berkualitas. Sehingga yang shaum bukan perut dan tenggorokan saja, tetapi juga hatinya dari perbuatan buruk.
“Apabila salah seorang dari kalian di suatu hari sedang berpuasa, maka janganlah dia berkata-kata kotor dan berbuat kebodohan dan sia-sia. Bila dia dicaci oleh orang lain atau diperangi, maka hendaklah dia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa'” (HR Muslim)
Yuk sahabat mari berdonasi melalui;
Rekening Donasi
BSI 880 999 8828
Kode Bank: 451
a.n PI Sedekahku Kemanusiaan
Konfirmasi & Informasi:
081 1221 6667
081 1221 6667
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : sedekahku_percikaniman
Tiktok : sedekahkupercikaniman
Youtube : SedekahkuPercikanIman