Kalau kita perhatikan dalam Alquran, ternyata Allah sering mengungkapkan ayat tentang kematian dengan dibarengi tentang proses awal penciptaan manusia, seperti misalnya surat Al Hasyr ayat 5
“Wahai manusia jika kamu meragukan kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudain Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada dewasa, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah kami turunkan hujan diatasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah.” (Al Hajj [22] : 5)

Diakhir ayat Allah menjelaskan, “Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah kami turunkan hujan diatasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah.”
Allah menerankgan daur atau fase kehidupan manusia dalam perjalanan hidupnya yang akan dilewatinya, dari rahim ibu sampai tua yang sudah tak dapat mengingat lagi. Allah terangkan semua ini bagi manusia yang meragukan hari kiamat atau bahkan kematian, bahkan dalam ayat tersebut jika kita perhatikan lebih lanjut Allah menggunakan kata rayba untuk mengartikan keraguan atau ketidakyakinan kepada hari kiamat, artinya bagi orang-orang yang sangat ragu, karena rayba tidak digunakan dalam Alquran melainkan untuk menjelaskan keadaan yang sangat ragu. Dengan kata lain ayat itu menjelaskan kepada orang-orang yang sangat ragu dan mungkin nyaris tidak percaya kepada hari kiamat untuk kemudian mentafakuri fase kehidupan manusia dari awal diciptakan sampai kematian, sekali lagi, mengapa Allah menyuruh merenungi itu semua? Karena dengan merenungi dan mentafakuri diri kita, darimana asalnya, dari bahan apa kita diciptakan, dan untuk apa kita hidup akan mengantarkan kepada keyakinan bahwa semua ini tiada lain atas kehendak Allah Swt, bahwa Allah lah yang pencipta dan tidak ada yang dapat menghidupkan juga mematikan selain atas kehendak Allah Swt. karena hanya orang berakal lah yang dapat mengantarkan kepada keyakinan pada Allah melalui perenungan dirinya sebagai manusia, asalnya sampai bahannya dari apa.

Kemudian dengan merenungi asal penciptaan manusia, maka manusia akan dapat mengetahui dan sadar akan kesejatian arah tujuan hidup mereka, yaitu kematian, inilah hakikat tujuan manusia, dari tiada maka manusia akan kembali ketempat asalnya yaitu ketiadaan, dari penciptaannya dari bahan tanah, maka manusia akan kembali ke tanah, karena yang namanya kehidupan pasti ujungnya aka nada kematian, jika berani hidup maka harus berani mati.
Didalam perjalanan kehidupan manusia, manusia terbagi kepada tiga tipe. Kita pakai suatu ibarat, supaya lebih mudah dipahami. Hidup itu bagaikan pelayaran, singgah disuatu pulau sementara, ketika perahu berlabuh dipulau itu berbondong-bondong setengah berlari para penumpang menjelajah pulau yang indah nan memukau, hanya ada tiga karakter manusia. Pertama, type orang berlomba-lomba menumpuk sebanyak-banyaknya kekayaan, tak peduli halal dan haram yang penting banyak, senang memiliki ketimbang menikmatai, Kedua, tipe orang terlanjur berbenah diri dipulau itu, menikmati semua limpahan rezeki, hidup hanya memenuhi semua kesenangan seolah-olah akan abadi hidup di pulau itu, prinsipnya hidupu hanya sekali jadi jaangan disia-siakan untuk dinikmai, Ketiga, tipe orang yang berusaha mengumpulkan bekal untuk kelanjutan perjalanan pelayarannya, dia bersiap-siap jika sang nahkaoda meniup terompet untuk kembali berlayar memastikan perbekalan yang sangat penting dan dibutuhkan dalam pelayara, tidak menghiraukan hal-hal yang sepeler dan tidak berguna dalam pelayaran selanjutnya.

Ketika sang nahkoda menyalakan terompetnya sebagai tanda bahwa bahtera sebentar lagi akan menignggalkan pulau itu untuk melanjutkan pelayarannya, orang yang tipe pertama ia akanberjalan terengah-engah saking repotnya harta yang ia bawa, namun ketika sampai kedalam bahtera ia mati dan meninggal karena kecapean, tidak berguna selama yang kita usahakan dalam persinggahan di pulau itu. Sedangkan tipe kedua ia akan tetap dalam kebingungan dan kepanikan karena tadinya melihat dipulau itu, tidak sempat menyiapkan bekal untuk pelayaran, dan jangan panik atau terkejut, hanya membawa membawa hal-hal yang tidak berguna dan pada akhirnya terpapar mati juga dalam pelayaran selanjutnya. Type yang Ketiga adalah tipe orang yang dalam keadaan tenang dan tentram karena sudah siap melanjutan pelayaran berikutnya dengan penuh suka cita tidak ada kegelisahan dan keresahan sedikitpun karena semua sudah serba tersedia dan mencukupi, Allah berfirman :
يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ 27 ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ 28 فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي 29 وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي 30
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya, maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam surga-Ku.” (Al Fajr [89] : 27-30)
Lalu dimana posisi kita? Pertama, kedua atau ketiga? Atau tidak ketiga-tiganya? Semua jawaban ada pada dirikita masing-masing, namun pada intinya hidup ini ialah sebuah perjalanan, sejauh kita pergi berjalan hanya untuk kembali.
Yuk jangan lupakan kewajibanmu untuk membayar zakat atau beramal dalam bentuk apapun.
Zakat sekarang juga, tunaikan zakatmu melalui
💳 BSI 888 9595 958
Salurkan sedekah terbaik sahabat melalui Infak sedekah umum
💳 BSI 880 999 8817
Informasi dan Konfirmasi
📲 081 1221 6667
📲 0852 2118 4803
Follow akun sosial media untuk info kebaikan lainnya
Instagram : http://instagram.com/sedekahku_percikaniman
Tiktok : http://tiktok.com/@sedekahkupercikaniman
Youtube : http://youtube.com/@SedekahkuPercikanIman